Kamis, 26 Maret 2015

Dulu

Malam ini, aku sedang disibukan dengan menari-narikan jariku diatas tuts, mendengarkan beberapa lagu yang ada di playslist dan pikiran ku pun sedang disibukan dengan mencerna arti dari jurnal berbahasa asing yang sedang kubaca. Tak ada satu celah dipikiranku diisi olehmu saat ini dan mungkin satu bulan belakangan ini.


Dan, tanganku tiba-tiba terhenti kala lagu ini ter-play secara acak.

Does she watch your favorite movies?
Does she hold you when you cry?
Does she let you tell him all your favorite parts

When you've seen it a million times?
Does she sing to all your music
While you dance to Purple Rain?


Aku dulu, pernah menangis seperti orang gila dan memutar lagu itu ratusan kali. Dan dulu, lagu itu juga yang membuat air mataku sejenak berhenti ketika tiba-tiba kamu mengatakan "lagu itu untuk aku kan?" kepadaku, dan kamu tersenyum renyah setelahnya.

Dulu, aku selalu berjanji untuk melupakanmu sesegera mungkin. Lalu kemudian keesokan harinya aku mendapatkan pesan darimu. Dan seperti yang kamu tau, aku ini adalah gadis yang tidak pernah bisa memegang teguh pendiriannya. Dan pertahanan hatikupun belum siap menahan hatiku untuk tidak terjatuh lagi kepadamu. Dulu, membuat janji dan melanggarnya adalah rutinitas setiap malam yang tak bisa aku hindari.

Tak ku mengerti mengapa beginiWaktu dulu ku tak pernah merinduTapi saat semuanya berubahKau jauh dari ku pergi tinggalkanku


Aku masih berhenti dari kegiatanku sebelumnya ketika lagu ini terputar. Dulu, aku menangis seperti orang gila di bioskop sendirian, ketika mendengar lagu itu menjadi salah satu sountrack sebuah film yang kita tak sempat menontonnya bersama. Film terakhir yang aku pinta untuk ditonton bersamamu sebelum jarak datang diantara kita. Film yang tak jadi aku tonton ketika 10 PING!!! dari mu membuat handphone ku bergetar tiada henti saat aku berada di depan penjaga bioskop saat itu.


                                                     *****

Aku kembali kepada kegiatanku sebelumnya; menarinarikan jariku diatas tuts dan memandangi jurnal bahasa asingku lagi. Beginilah aku sekarang. Malamku disibukan dengan urusan perkuliahan yang tak kunjung selesai. Tak ada lagi rutinitas membuat janji dan melanggarnya dikeesokan harinya. Tak ada lagi rutinitas menagisimu tengah malam sembari mendengarkan Like we used to - A Rocket To the Moon beratus-ratus kali. Tak ada lagi air mata yang membuat malamku begitu dingin. Tak ada lagi keping-keping kenangan yang membuat tanganku begitu gatal untuk menuliskannya disini. Semuanya hilang, bersamaan dengan dirimu yang perlahan menghilang dari kehidupanku. Bersamaan dengan perasaan yang "mungkin" sudah aku tinggalkan dibelakang. Bersamaan dengan diriku yang "mungkin" sudah kau lupakan.



Dulu, ntahlah rasanya patah hati begitu sangat amat menyenangkan.

4 komentar:

  1. Gawe aku nian denger lie we used to jutaan kali sambil nangis........ Krik krik

    BalasHapus
  2. hahhha iya kadang lagu itu bisa menguak kepingan kenangan yang sudah lama tertimbun waktu...

    ============================

    Pecinta Bola Gabung di Sini

    BalasHapus
  3. penyesalan emang suka datang belakangan.

    BalasHapus
  4. waktu patah hati emang bikin hati ngilu apalagi denger lagu yg kita banget liriknya :)

    BalasHapus

another stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...