Selasa, 19 Juni 2012

Harapan : cintaku ada di dirimu


.Angin yang berasal dari baling-baling kipas begitu menusuk kulit ini,meninggalkan bekas kaku,dan beku. Aku hanya diam,membiarkan angin-angin itu terus mengeruyak pertahanan kulit ini,membiarkan rasa dingin dan beku masuk menerobos  3 lapisan kulit hingga ke ubun-ubun ku. Aku masih diam. Kusadari kulit dan tubuh ini kompak meneriakan rasa dingin. Aku tetap diam. Tak ada perlawanan dari ku untuk membela tubuh ini,kubiarkan semua yang kuterima sekarang menjadi background dari kenyataan yang sedang ku hadapi sekarang. Pukul 1:30 dini hari . Terlalu dini untuk memuai hari dengan kenyataan seperti ini.
“Aku,orang yang sengaja khusus dipilih oleh Tuhan untuk menjadi sosok yang akan selalu tegar”
Batin ku selalu meneriakan kalimat itu,hingga akhirnya aku pun harus membiarkan air mata mengalir dari kedua sudut mata ku. Wujud dari ketegaran yang selalu aku teriakan. Tegar. Mengalami pergeseran makna pada malam ini.
Aku mencintai pelajaran sejarah tapi tak sesakit saat aku mencintaimu. Aku memahami semua proses kemerdekaan Indonesia,alasan pembentukan BPUPKI yang pada akhirnya berubah nama menjadi PPKI,mengapa Ir. Soekarno diasingkan ke Rengasdengklok,tapi aku tak pernah dapat memahami jalan pikiran mu,isi hati mu,dan semua keputusan mu. Aku selalu mendapat tempat khusus di pelajaran sejarah,mengapa semua berbanding terbalik pada mu? Kau dan Sejarah,dua hal yang sangat bertolak belakang dalam hidupku,namun selalu mendapatkan tempat yang sama spesialnya. Sejarah kupilih, karena keloyalannya menjabarkan semua rahasia masa lampau,membawa ku akan kenangan yang bahkan takpernah aku rasakan. Sedangkan kau,kupilih karena keloyalanmu yang selalu mengajarkan ku semua hal tentang kebahagiaan,membawaku melupakan kenangan masa lampau yang telah aku lewati.
“sekali lagi,aku minta maaf ”
 Hanya itu yang dapat kau ucapkan . tak cukup untuk mengapus rasa sesak yang sedari tadi berkecamuk didada. Tanpa penjelasan,tanpa alasan,tanpa pesan sedikit pun. Cukup jahatkah aku bila sekarang aku muak dengan semuanya? Dengan mu? Dengan “kenangan” itu ??
kau tak tau,dengan maaf mu itu,kembali lagi aku mengingat kenangan yang dulu kau suruh aku lupakan, rasanya pun tak beda,masih sama seperti dulu,perih. Rasa perih memang tak pernah ada variasi dan akan selalu sama.
Rasa itu memang tak bisa bertahan lama di hatimu,ntah apa penyebabnya. Aku tak dapat mencari jawaban itu di mesin pencari,seperti aku mencari jawaban apa penyebab hasil dari KMB (konfrensi meja bundar) dianggap tidak adil bagi indonesia semalam yang tak dapat aku temukan di buku.
“lakukan hal yang sama seperti kamu melakukannya dulu”
Kedengarannya memang mudah,tapi kau tak pernah tau seberapa sulit bagiku untuk bisa menghapus semua rasa yang melebur menjadi sebuah kenangan,kami,kita,dia dan kau. Aku harus tega menjahati hati sendiri,terus membohongi perasaan demi sebuah kenyataan yang harus aku terima. Terlalu sulit bagiku untuk membedakan kenyataan dan harapan darimu. Semuanya persis sama dimataku. Kau begitu apik menyembunyikannya sehingga nampak begitu persis dimataku. Kau menipuku?
Lagi pula,perlakuanmu dan dia berbeda. Namun luka yang kalian tinggalkan sama. Baiklah…
Menjauhi mu adalah cara nya. Sama seperti aku melakukanya dulu,padanya. Lantas mengapa kau protes dengan semua tindakan ku? Bukankah itu yang kau pinta dari ku? Setelah aku menanyakan pertanyaan itu dan kau menjawab
“rasa itu sudah mulai menghilang”
 tak perlu aku jabarkan terlalu banyak tentang pertanyaan itu. Semua perlakuan mu selama ini kontras dengan jawaban itu. Atau mungkin hanya aku yang menaruh harapan lebih dari semuanya,tingkah mu? Tatapan mu? Semuanya.
“salahkah kita begini?”
Sekali lagi,momen pendukung atas semua kebekuan malam ini. Pertanyaan macam apa ini? Seandainya keadaan mengizinkanku untuk memutar posisi dan aku bertanya kepada mu,salahkah ini semua? Mungkin sekarang  Aku belum terlalu dewasa untuk menyikapi pertanyaan ini Sebisa mungkin untuk menghindar dan mencoba mencari jawaban yang bijaksana untukmu. Namun aku tak sangggup untuk jujur.  Aku menikmati setiap proses dari perjalanan yang kau tanyakan sekarang “salahkah kita begini?”  ha ha “kita” . kita adalah hubungan antara kau dan aku. Kau yang berhenti mencintaiku,dan aku yang masih mencintaimu. Lantas beginikah “kita”yang kau maksud?
Jika kau bertanya “salakah aku yang begini?” mungkin dengan spontan aku menjawab tidak. Karena sekali lagi,cinta tak akan pernah salah,dan aku mencintaimu. Cinta ku ada di dirimu,tak sepantasnya aku menyalahkanmu.
Jika semua ini hanya sebatas harapanku yang terlalu besar kepadamu,bantu aku untuk menghapusnya. Hancurkan harapan itu.Bantu aku untuk bertindak lebih kejam kepada diriku,buat dia percaya kalau semua ini palsu,yakini dia bahwa semua ini harus berakhir. Aku hanya ingin mempercepat proses pelepasanmu. Hidupku begitu panjang,dan tak mau berlarut larut memelihara kepedian ini. Apabila aku berhenti di dirimu,selamanya hidupku akan begini,dan harus siap bersahabat dengan kepedihan,lagi.
Indonesia, mengalami 3,5 abad penderitaannya agar bisa mencapai kemerdekaan. 3,5 abad bukan waktu yang singkat,bahkan terlalu panjang untuk sebuah proses “pembebasan diri”. Tapi sekali lagi,kekejaman para penjajah tak membuat ia dipundung putus asa,dan malah sebaliknya. Menjadi pemicu untuk semakin bersatu,dan bangkit. Yang membuat proses ini sangatlah panjang,adalah sebagian besar penduduk yang selalu disuapi kebodohan,dari penjajah, agar  proses ini menjadi lebih panjang dan selamanya hidiup dalam penjajahan . Begitulah aku sekarang,aku tak mau terus menerus disuapi dengan kebodohan atas diriku sendiri yang mempercayai harapan itu nyata,dan membiarkan diriku yang begitu lama mengalami proses “pembebasan diri” ku atas dirimu.
“aku tak tega bertindak lebih dari ini,membiarkanmu terluka lebih dalam”
Diam . Hanya itu yang mampu aku lakukan, membiarkan diriku untuk terakhir kalinya menikmati harapan besar yang kubangun dari serpihan kenangan yang kau tinggalkan sekarang. Harapan yang sebentar lagi akan kubuang bersama kenangan yang menjadikan proses ini begitu memilukan untuk kupilih. Kubiarkan tangisan ini melakukan kewajibannya,mengeluarkan sesuatu yang tak layak tinggal begitu lama didalam diriku,luka dan pedih.
Cinta kita umm mungkin cinta ku tumbuh karena kebiasaan. Kebiasaan yang menjelma menjadi kenangan kini. Dan apabila kebiasaan itu perlahan menghilang,otomatis cinta ku padamu juga begitu,perlahan menghilang bersama kenangan . Maaf apabila jalan yang kupilih begitu menyudutkan mu,dan membuatmu terkesan sebagai penjahat yang tak punya hati nurani. Hanya saja,kau adalah seorang pencuri,pencuri hatiku dan aku harus menghukum mu. Ini tak terlalu sulit untuk kau jalani kan? Karena diriku memang tak pernah berarti untukmu,sedikitpun. Yakan? seharusnya sejak awal aku menyadari,hubungan yang didasari dengan ketidakpastian akan berakhir dengan pasti. Pasti perih dan terluka. Setelah ini selesai,aku kembali,menjadi diriku yang baru. Menjadi Alya ,yang telah melangkah jauh ,menata hidupnya,mencoba mengulang semuanya dari awal.
Maka aku berharap,ketika mataku terpejam dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata hingga pagi datang mengusir kebekuan malam ini,aku menjadi sosok alya yang baru,yang ingin mempercepat semua proses ini. Agar aku dapat segera kembali padamu,kembali menjadi sahabatmu,paling tidak dengan menjadi sahabatmu,mungkin aku sedikit lebih berarti dimatamu,fabrian..



 kelkelll~~~ just cerpen loh,bukan curhatan!! hahaha thankyou for reading :)

another stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...