Minggu, 30 Juni 2013

Malam itu


Malam itu, aku berbicara banyak seperti biasanya, hatiku pun begitu. Sebulan lebih tidak melihat mu membuat minus dimataku bertambah, kamu ganteng malem itu. Dengan kemeja yang aku lupa merk nya, celana pendek berwarna coklat, converse hitam, frame kacamata baru, dan potongan rambut ala model di katalog onlineshop. I hope i was wrong. Aku tak berani menatapmu lama - lama karena aku takut mataku perih. Perih lalu berair. 

Aku hanya bisa tertawa saat pertama kali melihat mu duduk di bangku merah itu, tidak sendirian. Aku menertawakan diriku saat itu. "Look, your prince with his princess" my mind said in that time. Dia, cantik. Rambut panjang, wedges, baju berbahan sifon, tas kecil. Everything that she wore makes me jelaous. Sesaat aku melihat ke diriku sendiri, datang menemui mu dengan memakai kemeja, sweater, jeans, jilbab biru tua, dan sneakers.


Aku terus mengutuk diriku sendiri dalam tawa yang malam itu ku buat. Meminta perhatian mu dengan semua kata kata konyol yang aku keluarkan, meminta sedikit perhatianmu yang hanya kamu berikan ke wanitamu saat itu. Ketika aku mendengar kamu tertawa bersamaku, aku ingin menangis. Bisa jadi, ini terakhir kalinya aku mendengar tawa itu. Bisa jadi, ini terakhir kalinya aku melihat kamu tertawa secara langsung. Bisa jadi,aku merindukan tawa itu.

Kamu tau, aku terus memarahi diriku sendiri disaat aku memarahimu karena rencana malam itu tak berjalan sesuai dengan rencana. Aku marah, cause i expected too much . Aku marah, karena semuanya jauh dari apa yang aku harapkan. Aku marah, karena aku terlalu bodoh malam itu. Mengharapkan mu untuk membatalkan rencanamu mengkepungku di dalam jarak yang begitu jauh, pindah ke kota lain. Lebih baik aku melihatmu dan wanita mu menunjukan perhatian kalian satu sama lain. Setidaknya, aku masih bisa melihatmu.

Seharusnya aku sedih malam itu, tapi ntah mengapa air mata tak kunjung melakukan tugasnya. Tawa lah yang menggantikan tugasnya malam itu. Aku terlalu bahagia hingga aku lupa apa yang seharusnya aku rasakan. Mungkin juga malam itu, kenyataan telah bernegoisasi dengan hati untuk dapat menerimanya.

Malam itu diakhiri dengan memandangimu yang sedang mengendarai sepeda motor, dengan dia yang persis berada dibelakangmu. Sampai akhirnya kalian menghilang dan tak terjangkau oleh pandanganku.

Tanpa sempat mengucapkan basa basi tanda perpisahan seperti ini akhir yang aku pertanyakan selama ini. Malam itu, aku ingin sekali bilang, aku ingin lebih lama melihatmu.


random conversation

July, 1st 2013

Aku tak tau ini disebut apa

Sekarang...
Aku tak tahu kata kata ini ditujukan untuk siapa
Aku tak tahu lagu yang kudengar sekarang untuk siapa
Aku tak tahu "go to user" di twitter harus ku isi dengan username siapa
Aku tak tahu kenapa hati ini kehilangan degupan kencangnya sekaligus kehilangan rasa perih nya

I can't feel anything

Aku tak tahu,kenapa air mata tak dapat mengerjakan tugasnya malam ini
Aku benar benar tak tahu apa yang sedang terjadi.

Benarkah ini semua yang dinamakan dengan menyerah?
Atau ini semua yang disebut berdamai dengan kenyataan?
Ummm, kehilangan harapan?

Diantara kalian berdua,adakah yang bisa menjelaskan ini semua ?

Dear,heart and mind.
 Jika itu benar, sebenarnya ini lebih menyiksa ketimbang melihat dia bersama wanitanya bersenang senang didepan ku. Setidaknya aku masih bisa merasa bahagia sekaligus sedih secara bersamaan. Setidaknya....


Sabtu, 01 Juni 2013

kamu baik-baik saja kan?

"kamu baik-baik saja kan sekarang?"

    Berkali kali kalimat itu ku ketik dan kuhapus kembali, tak akan pernah kubiarkan tombol enter mengirimkan pesan itu untukmu. Sebenarnya aku ingin menanyakan itu langsung padamu, duduk berhadap hadapan sambil memesan Mc flurry choco dan kentang mungkin. Rasanya 160 karakter tidak cukup untuk menanyakan semua rasa penasaran ku. Tapi menuliskannya di atas tuts tuts keyboard kurasa sudah cukup, paling tidak tak ada 160 karakter yang menjadi pembatas. Sebelumnya maaf, aku telah melanggar janjiku untuk tidak menuliskan tentang mu...

   Kamu, baik-baik saja kan sekarang? Mungkin kalau aku boleh menebak, kamu kecewa kan? Aku paham betul, rasa kecewa tak akan terobati dengan hanya mendengar nasehat atau kata kata bijak sekalipun. Dirimu sendirilah yang dapat menyembuhkan rasa kecewa itu. Aku hanya bisa membantumu dengan bernegoisasi kepada-NYA agar kamu mendapatkan yang terbaik berdasarkan versi-NYA.

 Maaf, cuma itu yang dapat kulakukan, karena aku tahu kapasitasku sebagai teman. Aku tak mau wanitamu bernggapan ada wanita lain yang mengambil peran nya. Aku yakin, dia menjalankan perannya dengan baik, menemanimu, mendengarkan cerita-cerita mu, guyonan mu, berusaha menjadi penyemangat yang baik, your happiness maker .Dia tau apa yang seharusnya ia lakukan. Tak ada satu wanitapun yang menginginkan wanita lain membicarakan tentang pasangannya, memikirkan pasangannya, memperhatikan pasangannya, menemani pasangannya, bahkan menuliskan sesuatu tentang pasangannya. Ah, seharusnya aku meminta maaf juga ke wanitamu, jika kamu membaca ini sampaikan permintaan maafku untuknya yah, bilang saja aku ini hanya salah satu penggemarmu.

    Kamu tau, berapa hari aku menahan untuk menuliskan semua ini? dan berapa lama tulisan ini tertahan di tab draf? ah sudahlah itu tak terlalu penting, yang terpenting bagiku, kamu baik baik saja kan? kamu baik baik saja kan? sengaja ku ulang, berharap aku mendapatkan jawaban yang melegakan.




 jika kamu sempat membaca ini, akan aku buat ini semua menjadi singkat. Aku mengkhawatirkan mu..

    

   


   

    






another stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...