Kamis, 22 Mei 2014

Cinta, ya cinta

Aku tidak sedang merindu sekarang. Tidak juga sedang mengenang-ngenang apa yang seharusnya tak aku kenang. Aku hanya duduk santai di depan laptop dan membiarkan jari-jariku menari-nari di atas tuts keyboard. Aku sudah menepati janjiku, mungkin...

Beginilah rasanya sekarang. Aku kehilangan semua aksaraku. Yang setelah aku sadari ternyata aksara aksara itu ikut menghilang bersamaan perasaan yang sedang ingin aku hilangkan. Mungkin hati sudah menemukan kata sepakat dengan kenyataan sehingga sekarang aku sedikit bisa menerima kehilangan itu.

Dulu, aku selalu mengkhayal jika pemeran utama kedua bisa mendapatkan cinta dari pemeran utama. Ya, watching drama is my alter ego now. Karena aku merasa tak adil apabila pemeran utama kedua di setting hanya untuk mencintai, tidak untuk dicintai. Yang rela bertaruh perasaan hanya untuk seseorang yang mencintai orang lain. Yang rela bertaru waktunya hanya untuk membuktikan seberapa besar cinta yang ia miliki. Endingnya, bahagia yang didapat hanya untuk pemeran utama dan pasangannya. Sedangkan pemeran utama kedua? dipaksa untuk menerima ending yang ntah itu happy, sad, or unfair ending.

Dan semua orang menyepakati cerita itu memiliki ending yang bahagia.

Tapi ntahlah, sekarang aku baru mengerti mengapa cerita seperti itu dikategorikan sebagai cerita yang ber-ending bahagia. Cerita tersebut memberitahuku bahwa cinta tidak mengenal hitung-hitungan logika. Cinta juga tak mengenal sebuah pembuktian yang melibatkan perasaan. Dan cinta tak mengenal permainan "siapa yang paling lama bertahan". Cinta ya cinta. Tanpa perlu apa-apa, tanpa perlu alasan apa dan mengapa. Cinta ya cinta, tanpa pernah mengenal kompromi dan negoisasi. Jika cinta telah menjatuhkan pilihan, logika sekalipun bisa dikalahkan. 


Ada juga drama yang menyiapkan cinta yang baru untuk pemeran utama kedua. Yang mungkin, bisa jadi happy ending bukan hanya untuk pemeran utama dan pasangannya saja. 

Ya, mungkin aku berada di cerita seperti itu sekarang. Tuhan, sang sutradara dari drama yang aku mainkan sekarang, sedang memberikan cinta yang baru untuku. Cinta yang akan membuatku mencinta tanpa perlu menanyakan apa dan mengapa. Cinta yang akan mengalahkan semua logikaku. Cinta yang sepertinya tak membutuhkan pembuktian apa-apa. Cinta yang akan membuatku hanya mencinta seperti layaknya mencinta. Cinta yang akan membuatku tak memainkan permainan "siapa yang paling lama bertahan" lagi. Cinta yang akan membuatkan happy ending versi-ku sendiri.



Cinta, ya cinta. Tanpa pernah ada kata "adalah" sesudahnya. Karena cinta tak perlu definisi untuk dapat memahaminya.


Kamis, 08 Mei 2014

Melepaskanmu


"Apa kabar mu?" 
"How's your life?"
"Kapan kita bisa meet up lagi?"

Melepaskanmu...... ternyata seberat ini.

Aku harus menahan semua pertanyaan yang ada di otakku sekarang. 
Mungkin, jarak sedang mengajariku cara melepaskanmu secara pelan-pelan. Mungkin kamu juga tau, berapa kali aku telah melanggar janji ku untuk melupakanmu sekaligus. Aku tak bisa melakukan apa apa bila jantung ini mulai berdetak tidak beraturan ketika aku melewati kedai ayam yang biasa kita jadikan tempat untuk bertemu. Lalu kenangan tentang asiknya mengabiskan waktu disana bersamamu bermunculan, tentang kebiasaanmu menyanyikan lagu-lagu di kedai ayam itu, lalu kita tertawa lepas setelah itu. Kalau sudah begitu aku bisa apa selain memikirkanmu. Janji itu seketika runtuh, terpaksa aku harus membangunnya dari awal.

Belum lagi ketika aku sedang rindu-rindunya kepada kamu. Aku bisa apa ketika kamu jarang mengupdate status di akun sosial mediamu sedangkan aku sedang ingin mengetaui kabar mu disana? terpaksa aku harus membuka dan membaca recent chat kita di skype dulu, mengingat kenangan tentang mu yang tertinggal disana. Dan kalau sudah begitu, biasanya aku nekat untuk menghubungimu duluan. Menunggu dan menerima balasan sms darimu selalu berhasil membuat jantungku kembali berdetak tak beraturan dan membuatku lupa bahwa aku sedang melanggar janji untuk berhenti mencintai.

Mungkin, jarak sedang mengajariku untuk membangun pondasi itu, dengan cara membuatku sadar bahwa kamu berada cukup jauh sekarang, sehingga membuatku sadar bahwa aku terlalu sibuk merindu sedangkan kamu terlalu sibuk menikmati dunia barumu, dan membuatku sadar bahwa aku merindu sendirian disini.

Mungkin juga, jarak sedang mengajarkanku bahwa melepaskanmu itu bukan hanya sekedar janji.


Sekarang, sedikit aku mengerti bahwa melepasmu itu memang butuh keteguhan hati yang lebih kuat dari baja. Yang bisa menahan untuk mati-matian tidak menanyakan kabar ketika mati-matian sedang merindu. Menahan untuk tidak mengenang-ngenang kenangan yang memaksa untuk masuk ke pikiran.

Mungkin sekarang aku belum bisa menahan untuk tidak patah hati dan menangis ketika aku tau kalau kamu telah bahagia sekarang, dengan dia yang jaraknya begitu dekat denganmu. Lagi-lagi jarak.Mau tak mau aku dipaksa untuk melepaskan apa yang harusnya aku lepaskan. Sesuatu yang bukan untukku.

Mungkin nanti, aku juga akan bahagia dengan seseorang yang jaraknya berdekatan dengan ku. Dan jika waktu itu telah tiba, dan kita sudah sama-sama bahagia sendiri-sendiri, itu berarti aku telah melewati perihnya proses melepaskanmu.

Karena untuk saat ini, aku sedang sakit-sakitnya berusaha melepaskanmu...




Inspired by: Itu lagu kita, Fey


another stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...